2 Tahun Tanpa Membaca Buku Namun Membaca Artikel di Kompasiana
![]() |
| Credit Photo: Freepik |
Kalau ditanya sudah berapa buku yang saya baca di tahun 2025 lalu maka jawabannya adalah nol alias tidak ada. Ya benar, saya memang sedang tidak membaca buku dalam 2 tahun terakhir ini Bahkan ketika ditanya target buku yang ingin saya baca di 2026 maka jawabannya belum tahu.
Memang sebaiknya sebagai seorang blogger, saya rutin membaca buku meskipun hanya selembar halaman. Ada beberapa manfaat ketika seorang blogger rutin membaca buku, antara lain:
- Memperkaya diksi sehingga tulisan yang dibuat nantinya enak untuk dibaca
- Memperluas wawasan sehingga bisa memunculkan ide untuk menulis artikel lain
- Sebagai sarana pengembangan diri
Namun meskipun saya tidak pernah membaca buku selama kurun waktu 2 tahun terakhir, saya ingin ngeles sedikit, hehehe. Saya tetap membaca kok tapi bukan buku melainkan artikel para blogger lain hingga artikelnya para Kompasianer.
Jadi ceritanya setahun belakangan ini saya cukup aktif menulis di Kompasiana, platform blog keroyokan yang bisa digunakan oleh blogger untuk menulis. Entah kenapa ada rasa senang manakala artikel yang saya tulis masuk ke dalam kumpulan Artikel Pilihan bahkan Artikel Utama.
Kompasiana sendiri merupakan platform UGC dimana setiap orang yang memiliki akun di sana bebas untuk menulis berapapun artikel dalam sehari. Mau sehari kita posting 10 artikel juga boleh asalkan sanggup.
Biasanya sih batas mengunggah artikel dari artikel pertama ke artikel kedua dan seterusnya adalah 1 jam. Saya pernah mencoba posting beberapa artikel dalam jeda 10 menit ternyata ditolak dan ada keterangan harus menunggu 1 jam kemudian.
Tahun 2025 lalu saya memang tidak membaca buku sama sekali namun fokus saya berubah dengan membaca puluhan artikel para Kompasianer setiap bulannya. Tujuannya tentu saja dalam upaya mengasah skill menulis saya agar lebih baik.
Entah kenapa, saya merasa sangat antusias ketika membaca tulisan dari para Kompasianer, seolah tulisan mereka adalah ilmu baru untuk dipelajari. Ilmu yang saya maksud di sini meliputi tema yang diambil, gaya bahasa hingga cara sudut pandang yang digunakan untuk menulis.
Saya tidak pernah memilih tulisan mana yang hendak dibaca, apakah itu artikel pilihan, artikel utama atau artikel yang bahkan tidak masuk ke dalam kategori keduanya.
Ada beberapa faktor kenapa saya memutuskan untuk membaca sebuah artikel di Kompasiana, salah satunya adalah tema yang ditulis. Terkadang tema motivasi, kesehatan mental, karir hingga keluarga menjadi minat saya dalam membaca artikel para Kompasianer. Namun bukan berarti tema lainnya tidak saya baca.
Bahkan ada Kompasianer yang sering menulis artikel olahraga dan saya rutin membaca artikel beliau ini dari awal hingga akhir. Saya kagum dengan kepiawaiannya dalam mendeskripsikan sebuah pertandingan hingga analisanya tentang pemain dalam pertandingan olahraga tersebut.
Selain tema yang menarik, terkadang judul artikel yang bisa membuat penasaran pun akan langsung saya baca meskipun mungkin isi artikel bisa dikatakan biasa-biasa saja. Menurut saya, judul yang menarik dan membuat penasaran itu ternyata menjadi "trik" agar sebuah artikel dibaca orang lain.
Para penulis di Kompasiana bisa dikatakan terdiri dari latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa hingga para pensiunan. Dari tulisan-tulisan mereka, saya merasa banyak mendapat wawasan terutama dari gaya kepenulisan masing-masing.
Penutup
Walaupun saya tetap rutin membaca meskipun bukan baca , namu tetap ada harapan tersemat agar di tahun 2026 ini bisa membaca minimal 1 buku. Sebenarnya saya sangat tertarik dengan buku Atomic Habits karena baru saja menulis artikel di Kompasiana tentang tema Atomic Habit ini.
Rasanya kurang afdol jika sudah berbicara mengenai sinopsis dari buku Atomic Habits namun belum membaca keseluruhan isi bukunya.
Doakan saya yah teman-teman agar tahun 2026 ini saya berhasil membaca minimal 1 buku.

Posting Komentar untuk "2 Tahun Tanpa Membaca Buku Namun Membaca Artikel di Kompasiana"